Jadi Santri Itu Keren

jadi santri itu keren – Kata santri mungkin sudah tak asing lagi di telinga masyarakat digital. Namun banyak orang yang berbeda pendapat dalam menerapkan kata santri. Beberapa orang ada yang menerapkan kata santri kepada orang yang pernah tinggal dipesantren untuk beberapa tahun. atau ketika ada seseorang yang memakai baju gamis (jubah) dengan sedikit jenggot didagunyapun biasanya sering dipanggil santri oleh beberapa orang. Atau bahkan ada juga orang yang memanggil santri kepada orang yang memiliki akhlaq yang baik meskipun orang tersebut tidak pernah tinggal dipesantren dan sama sekali tidak memiliki sedikitpun jenggot didagunya. Lalu sebenarnya apa & siapakah santri sebenarnya??? Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan sebutan Gus Mus pernah mendefinisikan kata santri sebagai “sekelompok orang yang memiliki kasih sayang pada sesama manusia dan pandai bersyukur”. Itulah definisi santri menurut Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus.

Biasanya orang awam sering memandang santri sebagai seseorang yang fokus pada masalah akhiratnya saja. seperti mengkaji kitab-kitab kuning, mengkaji tafsir al qur’an, fiqih, quran hadist, bahasa arab dan semua yang berkaitan dengan pelajaran-pelajaran agama yang ada di pondok.

Menurut saya sebenarnya pandangan tersebut kurang tepat. Mengapa?? karena “santri juga manusia, punya rasa punya hati (ujar seurieus dalam lagunya – rocker juga manusia)”. santri itu keren. Mereka juga bisa berkembang dengan bakat & minat yang mereka miliki. Misalnya menjadi seorang wirausahan, komedian, dan masih banyak profesi lainnya yang bisa mereka jadikan ladang untuk usaha. tidak sedikit santri yang menguasai ilmu tentang perekonomian, perdagangan, bahkan banyak santri yang pandai ceramah dengan versi lucu sehingga sipendengar lebih santai dalam mencerna ilmu yang disampaikan. dan masih banyak diantara mereka yang ahli di bidang selain itu. Tentunya dengan cara mereka sendiri yang tidak menghilangkan norma-norma keagamaan.

Menjadi santri itu ternyata menyenangkan – Menjadi seorang santri adalah pengalaman yang tak akan pernah saya lupakan. Ada kebanggaan tersendiri ketika menjadi santri, Susah senang, canda tawa, hingga kebersamaan yang tak bisa dirasakan oleh orang-orang yang berada diluar pesantren. sungguh menjadi santri adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan.

Semenjak duduk dibangku SD, saya tidak pernah kepikiran untuk menjadi santri. Karna bagi saya menjadi santri itu adalah hal yang membosankan, dan dibatasi dengan berbagai aturan yang ada. Tapi entah kenapa orang tua saya begitu menginginkan semua anaknya untuk melanjutkan pendidikan di pesantren. padahal bagi saya tak ada niat sedikitpun untuk mondok. Mungkin ada alasan tersendiri kenapa saya disuruh mondok oleh orang tua saya.

Saya adalah seorang santri di pondok pesantren sukamanah. Tepatnya Jl. Makam Pahlawan Nasional KHZ. Musthafa Sukamanah Sukarapih Sukarame Tasikmalaya Jawa Barat. Saya menjadi santri dipondok tersebut kurang lebih 6 tahun. Meskipun hanya 6 tahun, tapi saya mendapatkan banyak pelajaran yang sangat berharga selama berada di Pesantren Sukamanah.

Pengalaman serta kesan pesan apapun yang saya alami ketika saya berada dipesantren memberikan pelajaran berarti, suka duka menjadi kamu bersarung & berpeci hanya bisa dirasakan di lungkungan pesantren. Hidup dipesanten mengajarkanku bagaimana hidup mandiri. Jauh dari keluarga, sodara, dan bahkan teman-teman yang biasa berkumpul dirumah.

Bicara masalah mondok, kita tidak akan pernah lepas dengan yang namanya kebersamaan. Karena dipesantren, kebersamaan antara santri satu dengan santri yang lainnya sangatlah kuat seakan-akan kita sudah menjadi satu keluarga yang selalu bersama. Makan, minum, mandi, tidur, bahkan apapun itu kegiatannya pasti kita lakukan bersama. Saya ingat, ketika ada orang tua santri yang datang untuk mengunjungi anaknya, pasti orang tua santri tersebut membawa nasi untuk anaknya serta santri lainnya yang tinggal sekamar. Dari bungkusan nasi itulah kebersamaan santri terlihat, sebelum makan bungkusan nasi itu digabung jadi satu sehingga bisa makan bersama – sama, ramai saling berebut nasi sudah menjadi hal biasa yang menjadikan sebuah kebersamaan semakin erat.
Tidak hanya dalam masalah makan. Dalam masalah tidurpun kita selalu bersama, saling berebut tempat tidur, berebut selimut, berebut bantal sampai ada yang suka lempar-lemparan bantar ketika lampu sudah dimatikanbahkan ada juga yang suka lempar sepatu, sabun pokonya apapun yang ada di sana kadang suka dilempar. Sebenarnya sepele, tapi dari situlah terjalin kehangatan, keharmonisan serta kebersamaan.

Bahkan mandipun tanpa rasa malu kita seasrama itu mandi dikolam yang sama disana kami berlima mandi minimal waktu 40 menit. Sengaja kita memakan banyak waktu karna sebelum mandi inti, kita terlebih dahulu mengumpulkan buih untuk di balurkan ke lantai supaya licin. Dan setelah itu kita main selonjoran. Dan kita tak akan berhenti bermain selonjoran kecuali kalo ada pengurus yang sedang patrol. Itu pun kadang kita ngumpet di wc tempat buang air besar.

Pernah juga Main sepak bola di halaman pesantren padahal bermain sepakbola dihalaman pesantren dilarang, jika ada keamanan para santri lari menyelamatkan diri masing – masing karena jika tertangkap maka mereka akan di tajir (telapak kakinya dipukul pake rotan). dan masih banyak cerita lain yang tak bisa saya ceritakan semua. Biar tahu kehidupan pesantren mangkanya ayo mondok.

Sempat juga suatu hari saya mencoba untuk ngeband di salah satu studio music yang berada dideket pesantren sukamanah. Dan pada akhirnya sayapun ketahuan sampai dipanggil oleh pengurus untuk menghadap rois (ketua asrama). Setelah menghadap rois, kami diceramahi habis-habisan. Sampai pada akhirnya rois tersebut memutuskan untuk menghukum kami dengan cara mengambil sampah di kolam depan asrama putri. Sungguh malu luar biasa kita pada saat itu. Seiring dengan berjalannya waktu, hampir setahun hidup dipenjara suci saya mulai kerasan dan menikmati hidup dipesantren karena saya selalu terngiang pesan orangtua “kamu harus mondok, entah berapa tahun kamu dipondok intinya kamu harus mondok karena saya ingin kamu lebih baik serta mempunyai pegangan ketika hidup diluar pesanten”. Pesan inilah yang membuat saya semangat untuk menikmati kehidupan pesantren.

Saya bangga menjadi santri. Karena dengan menjadi santri saya sedikit tahu ilmu agama. saya bangga menjadi santri karena dengan mejadi santri saya bisa merasakan nikmatnya kebersamaan yang tidak bisa saya dapatkan diluar penjara suci. Saya bangga menjadi santri karena saat menjadi santri saya sering menulis surat cinta dikertas putih yang tak pernah ku lakukakn ketika menjadi alumni. saya bangga menjadi santri karena saat menjadi santri saya diajarkan untuk menjadi orang yang sederhana yang tak gampang puas diri. saya bangga menjadi santri karena saat menjadi santri saya di didik untuk menjadi insan yang islami. saya bangga menjadi santri karena dari santri saya siap berkecimpung dengan masyarakat. Saya bangga menjadi santri karena disana pergaulanku terjaga. saya bangga menjadi santri karena dari santri saya tahu bahwasanya ilmu dunia serta akhirat harus seimbang agar tak salah dalam melangkah.

Terimaksih Bapak,Ibu telah memaksaku untuk mengenyam ilmu di penjara suci, sekarang aku sadar bahwasanya mondok itu penting walaupun mengekang diri.

6 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *